Kebahagiaan Dibalik Jendela
Di waktu bulan sudah lelah menyinari gelap malam itu, aku duduk bersamanya di bangku kayu tua, di ruang tamu yang selama ini menjadi saksi bisu, saksi akan garis takdir yang telah kita ciptakan. Angin malam membawa aroma tanah yang baru saja disiram embun. Tenang, tapi bukan tenang yang menyenangkan—melainkan yang mengisyaratkan akan datangnya sesuatu yang tak enak dirasa.
Masalah datang seperti tamu tak diundang. Menyelinap di antara tawa kami yang di hari-hari sebelumnya terasa begitu hangat. Wajahnya berubah, seperti langit yang awalnya cerah lalu mendung tanpa peringatan. Nuansa terang yang selama ini kami ciptakan bersama, tiba-tiba terhapus seperti noda yang terlalu keras digosok. Bahkan, suara alam pun ikut menyepi. Gemuruh jangkrik dan nyanyian kodok mendadak lenyap, seakan alam pun tak sanggup mendengar.
Dia—perempuan yang telah menemaniku melewati musim-musim dalam setahun terakhir—tiba-tiba diam. Tak ada sepatah kata pun. Hanya matanya yang berbicara. Dan aku, bodohnya, tak sepenuhnya mengerti bahasa itu.
Wajah cemberutnya, seperti biasa, malah terlihat manis di parasnya yang selalu berhasil membuatku lupa waktu. Alisnya yang mungil, hampir menyatu di tengah, seperti sudah begitu sejak lahir—membentuk ekspresi yang khas, lucu, dan sedikit menyebalkan. Tapi begitulah dia. Bahkan saat marah, dia tetap terlihat seperti orang yang sedang memainkan peran dalam kisah romantis yang aneh.
Aku menatapnya lama. Tak tahu harus berkata apa. Dan dia, tetap diam. Ah, sudahlah… memang dari dulu dia selucu itu. Dan mungkin, justru karena itu aku takut kehilangannya.
Namun, tiga hari lamanya dia mengabaikanku. Serasa hanya ada dia di rumah itu. Padahal kita berada di rumah yang sama,rumah yang selalu aku sebut tempat pulang yang sebenarnya. "Ada, tapi tak dianggap ada." begitulah kiranya yang dikatakan para cendekia.
Dan yang paling aku suka darinya—ia marah tanpa suara. Tak seperti kebanyakan perempuan yang meluapkan kecewa lewat kata-kata, ia memilih diam. Awalnya, aku justru menyukai caranya itu. Marah tanpa bentakan, tanpa satu pun kalimat terlontar. Ia membiarkan waktu menjadi penenang, seolah diam bisa menyapu bersih semua yang kusut.
Kupikir, diam itu menenangkan. Meski sesekali membuatku bingung, tetap saja terasa lebih mudah dihadapi. Dengan sikapnya yang seperti itu, aku merasa—ini bukan masalah besar. Cuma sejenak tarik ulur hati, pikirku.
Tapi ternyata, aku keliru. Setelah tiga hari tanpa sepatah kata pun darinya, aku mulai mengerti satu hal yang terlambat kusadari;diam bisa menjadi bentuk kemarahan yang paling menakutkan. Jauh lebih tajam daripada omelan, lebih menyayat daripada bentakan. Karena diam tak memberi ruang untuk menjawab, apalagi membela diri. Ia hanya meninggalkan kekosongan—dan dalam sepi itu, aku dihukum oleh kesalahanku sendiri.
Masalah ini ternyata benar-benar rumit. Dengan keputusasaan bawah sadar, naluriku berkata "Apakah ini akhir dari rangkaian cerita yang aku karang? Akhir cerita yang begitu menyakitkan.“
Begitu waktu mengikis kesenjangan ini —tepatnya setelah empat hari lamanya— Aku memberanikan diri menghampiri pujaanku. Aku temukan dia berbaring di kasur dengan selimut yang basah kuyup terletak di bawah pipi kanannya.
"Entah apa yang membuatmu menangis. Aku sangat bingung," ucapku dengan datar nan heran.
"Ha? Kau tanyakan kenapa aku menangis? Dimana kesadaranmu. Sampai kau tak tau apa yang kau perbuat. Ah!lah... ternyata benar, kau hanya memperdulikan pembenaran dari sudut pandangmu. itulah yang membuatku ragu sebelum menikahimu, apakah aku bisa bertahan bila berasamamu," timpalnya dengan alis terangkat bak serigala kelaparan.
Aku menghela napas "Aku tau. kau menungguku setiap malam. Sampai kau tertidur pulas di sofa sendirian tanpaku. Tapi apakah keringatku untuk janda yang kesepian di luar sana? Tentu semua ini hanya untukmu."
"Aku tak pernah sedikitpun butuh semua itu. Aku hanya butuh sebagian besar waktumu hanya untukku. Aku hanya butuh Kau ada disamping..." ucapan yang begitu lirih karena isak tangis telah menguasainya sampai tak bisa menlanjutkan akhiran katanya.
Aku memeluknya "Aku mohon hentikan air matamu. Air matamu terlalu bening untuk disia-siakan. Tak ada satupun tujuanku didunia ini selain melihatmu selalu tersenyum."
Dia membalas pelukanku dan melampiaskan semua kemarahan yang ia pendam dengan menangis terisak-isak di pelukanku.
Tak berselang lama, di waktu tangisnya mulai mereda. Tiba-tiba dia menatapku dengan tatapan penuh makna seperti tatapan pertama kali seorang ibu kepada anaknya yang baru dilahirkan. Dia menatapku sambil diiringi senyum manjanya yang tipis dan manis tanpa melepas pelukan. lalu memelukku kedua kalinya dengan pelukan lebih erat dari sebelumnya.
Dengan dia dalam dekapanku, segala resah di benak seolah lenyap, menguap entah ke mana. Sementara diluar sana angin berdesir pelan di luar jendela, seakan membawa pergi kesangsian yang sempat hinggap di antara kita. Dalam keheningan malam yang bersahabat, aku hanya bisa berbisik dalam hati—terima kasih angin.
Lalu dia melepas pelukannya dan berkata: "bukankah ini malam yang terang. Tidak ada awan mendung yang menghalangi keindahan bintang." Dengan garis raut manjanya sambil menatap ke luar jendela.
"Lantas?" Kataku sambil mengusap sisa air matanya lalu mengecup keningnya.
"Aku rasa melihat bintang di saat ini bisa menghapus kesalahanmu itu dan membuat kita impas," kata dia dengan raut ketusnya.
Aku pikir pantailah tempat yang pantas untuknya. Disana langit bisa ditatap sejauh mata memandang dihamparan gelapnya malam. Pantai sangat dekat dengan rumah kita. Tak seberapa jauhnya, hanya beberapa langkah untuk sampai kesana. mungkin hanya sejauh pandangan mata.
Di tengah pejalanan, Pohon-pohon kelapa berjejer rapi ditepi jalan, ia tak hentinya melambaikan daunnya, seakan ikut menikmati apa yang kita rasakan, yaitu kebahagiaan. Kebahagian setelah dunia terasa hampa ternyata bisa memaknai apa itu bahagia yang sesungghunya. Mungkin ini alasan tuhan menciptakan ujian dan keterpurukan disela-sela kehidupan.
Dia berjalan di sampingku. Ia terus mendekap erat tanganku dengan genggaman penuh makna seolah takut kehilanganku. Seakan baginya hanya diriku yang diizinkan berada di sempingnya
Sesampainya di pantai, ia menurunkan langkahnya di atas pasir putih yang halus—hanya sejarak satu meter dari desiran ombak—lalu menoleh padaku dengan senyum tenang, mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya.
Kita tenggelam dengan cita rasa keindahan masing-masing. Pujaanku terkesipu memandangi langit malam yang bertabur bintang, sembari berbaring di pangkuanku. Sementara itu, aku merasa sudah cukup hanya dengan menatap senyumnya—senyum yang menghangatkan malam lebih dari cahaya bulan.
Di seberang sana, sebuah pulau kecil berdiri tenang, membuat pantai ini tampak lebih menawan saat malam tiba. Keindahannya sederhana, dihiasi cahaya-cahaya kecil yang berjajar di setiap hamparan bukitnya—seperti bintang-bintang yang menggantung rendah di cakrawala. Cahaya kecil itu berasal dari lampu-lampu perumahan di pulau itu seolah ditata oleh tangan langit sendiri. Dan pulau itulah tanah kelahiranku.
Sekarang, malam ini, dan detik ini, hanya bulan dan bintang yang melihat kita dari kejauhan. Seakan terpaku melihat keindahan yang kami ciptakan.
Ombak malam membentur lembut perahu kayu nelayan yang bersandar di tepi pantai, seolah ikut tersenyum menyaksikan kemesraan kami di tengah sunyi yang tenang.
Tiba-tiba, dia berdiri menatap langit luas dan berteriak penuh semangat ke arah lautan tak bertepi.
"Langit, bintang, gunung, bulan! Ia adalah Pangeranku, yang kutemukan di negeri seberang!"
sambil menunjuk ke arahku, ia melanjutkan, suaranya bergema bersama angin malam, “AKU SANGAT MENCINTAINYA!!!"
Raut wajahnya memancarkan kepuasan yang tak tergambarkan—seakan cinta yang tertahan akhirnya tumpah ruah, mengisi malam yang hampa , sunyi, dan gelap.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sudah dua jam kami di sana. Sang Dewi kini telah tertidur pulas di pangkuanku, terbawa dalam kisah-kisah yang kuceritakan. Angin malam tak henti berhembus lembut, seolah turut menjaga dan mendamaikan tidurnya.
Dalam diam, aku membatin, “Dewiku, aku sangat mencintaimu,” lalu mengecup keningnya perlahan.
Tak lama kemudian, dia terbangun, menatapku penuh hangat, lalu memeluk erat dan membisikkan “Aku juga mencintaimu, Pangeran.”
Aku terkejut. Rupanya bisikan hatiku menjelma jadi gema dalam mimpinya. Begitulah kuatnya ikatan batin kami, hingga alam bawah sadar pun ikut menjadi saksi cinta ini.
“Ayo kita pulang,” kataku lembut, sambil menggenggam tangannya. “Bukankah ini sudah cukup membuat kita impas?"dengan nada bertingkah dan tertawa kecil yang menjengkelkan.
-adhimtryfill
Tidak ada komentar:
Posting Komentar