Senin, 07 Juli 2025

Pulau Aswata

 Pulau Aswata


"Kita tersesatUcap BELAKANG yang saat itu menuntun langkah petualangan. Dia buta, tapi pendengaran yang begitu tajam melahap kekurangannya. Baginya, dunia  tak perlu dilihat. Percik air, bisik angin, dan gesekan dahan sudah cukup bercerita. 


Mereka berempat terdiam. Sepenggal kata yang barusan terdengar, membekukan langkahnya. Setelah KIRI meragai perkataan si buta pada adiknya yang tuli, KANAN terlihat mengamati sekitar. Pandangan matanya menembus pepohonan, mengiris udara, tajam dan penuh perhitungan, seolah mampu menembus gunung yang menutupi pandangannya.


"Tidak, tidak. Kita tidak tersesat" Ucap Si tuli, sang mata elang. Dengan raut antusias.


KIRI tiba-tiba mengarkar tanah tepat di selangkangan kakinya. Dia mendapati tanah itu lembap tidak berdebu, menandakan posisi mereka sudah dekat dengan pantai. Dengan tanah lembap yang digenggam, Si bisu mengangguk pelan menandakan ia percaya dengan ucapan adiknya. Semua keputusan akhir berada di genggamannya.


DEPAN berbeda, Kepribadiannya sebagaimana orang tersesat pada umumnya, wajahnya penuh kekhawatiran. Rasa takut terlihat menguliti tubuhnya.  Ia normal tanpa retak seperti yang lain, bisa bicara, bisa melihat, dan bisa mendengar. Ia satu-satunya penjelajah tanpa kekurangan dan juga kelebihan.


Tim penjelajah ini  mempunyai pusat pemikiran, ia adalah KIRI —Si Bisu. Bisu bukan berarti mati kata. Sebab di kepalanya, kata-kata beranak jadi rute, teka-teki, bahkan jalan menuju harapan. KIRI adalah Otak raksasa, begitulah gelar yang mereka tanamkan padanya, Si anak pintar yang tak bersuara. Di saat otak-otak lain menabrak tembok, KIRI meraba celah di retak-retaknya. Pikirannya bagai labirin sunyi yang hanya dia sendiri paham jalannya. 


Disaat semua pandangan berpusat pada gerak-gerik tangan si bisu yang tengah menjelaskan siasatnya, DEPAN terperanjat melihat kakek tua dengan tongkat aneh di tangannya. Ia melangkah pelan, tongkatnya menjejak dedaunan.


“Mau ke mana kalian, Nak?” suara seraknya pecah di antara bisikan sunyi.


Mereka terdiam. Tak satu pun menjawab. KIRI hanya menatap. Ujung jarinya berhenti menggurat tanah.


DEPAN menelan ludah, lalu berbisik, “Kami… kami mau ke Pulau Aswata Kek... mau berobat." 


Si kakek tertawa kecil, suaranya bagai ranting kering yang patah. “Pulau yang katanya bisa memulangkan lidah yang kelu, mendentingkan telinga yang tuli, mewarnai mata yang padam.”


Ia menatap KIRI dalam-dalam, seolah membaca rahasia di balik sunyinya. Ia merasa ada banyak keistimewaan di dalam dirinya.


Si kakek mengetuk tongkatnya pelan, seakan membangunkan tanah lembap di bawahnya. Matanya tenang terasa sudah mengenal mereka siapa dan mau apa—jauh sebelum pertemuan ini.


“Pulau Aswata, tempat orang-orang menambal retak di tubuhnya dengan kepalsuan yang rapi. Di sana, daging , jantung dan syaraf bisa dibetulkan seperti genting bocor di atap rumah.


Tapi ketahuilah, yang diperbaiki hanya yang tampak. Yang dalam, dibiarkan busuk pelan-pelan. Mata mereka dibuka hanya untuk menatap kepuasan tanpa pertimbangan. Telinga dipasang hanya untuk pujian, Mulut dibuka hanya untuk menutupi kenyataan."


Si kakek menatap satu per satu dari mereka, KIRI menggerak-gerakkan jemari tangannya, menulis suara parau itu di udara untuk Si KANAN yang tuli. BELAKANG menatap kosong ke atap hutan sambil menyimak bayangan suara di kepalanya.Sementara DEPAN menundukkan wajah — keberanian, rasa takut, dan kekecewaan berperang di pikirannya.


Kakek tertunduk pelan lalu melanjutkan ceritanya. Suaranya parau, tapi setiap kata seperti palu mengetuk hati berbatu.

“Pulau Aswata adalah pulau impian untuk tinggal, tapi lumpur menutupi dasar kakinya. Di sana, orang-orang menutup mata agar kebusukan berperangai sebagai kebebasan. Kalian buta karena takdir —itu adil. Mereka buta karena rakus —itu pengkhianatan."


Kakek tua itu menghela napas pelan, dia berkata dengan tenang seperti aliran air sungai kecil yang jernih, "Pergilah jika hanya sekedar berobat. Hati-hati dengan bisikan kemegahan tapi tertanam kepalsuan.

Kalian perlu tau, tak semua obat membuat kita tenang, ada yang justru mematikan rasa sakit, agar kita lupa kalau kita sedang sekarat.” 


Angin merambat di sela pepohonan, menggoyangkan ranting yang sudah rapuh oleh usia. DEPAN menarik napas pendek. Suaranya nyaris tenggelam di antara desir dedaunan, "Biar kata tetap terkurung, telinga tetap bisu, mata tetap padam —asal hati kami tak belajar berdusta. Karena kami tahu, kalau semua celah dibuka, kami pun bisa jadi juga membabi buta, sama seperti mereka.”


KIRI menunduk, menutup isyaratnya di udara. BELAKANG menegakkan punggung, seolah menatap terang di balik gelapnya. KANAN memejam, lalu membuka matanya perlahan —menandakan setuju tanpa kata.


Tak ada yang perlu diucap lagi. Langkah mereka serempak berbalik. Pulau Aswata tinggal kabut di belakang —gemerlapnya yang mulai ditinggalkan terkubur di punggung mereka.


Dan angin di antara dahan membawa gumam kakek, lirih, nyaris terhapus dedaunan, "Retak yang kalian rawat lebih jujur dari pulih yang mungkin akan membusuk.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pulau Aswata

  Pulau Aswata " Kita tersesat "  Ucap BELAKANG yang saat itu menuntun langkah petualangan. Dia buta, tapi pendengaran yang begitu...