SEPENGGAL DINDING
" Kita tersesat" Ucap BELAKANG yang saat itu menuntun langkah petualangan. Dia buta, tapi pendengaran yang begitu tajam melahap kekurangannya. Baginya, dunia tak perlu dilihat. Percik air, bisik angin, dan gesekan dahan sudah cukup bercerita.
Mereka berempat terdiam. Sepenggal kata yang barusan terdengar, membekukan langkahnya. Setelah KIRI meragai perkataan si buta pada adiknya yang tuli, KANAN terlihat mengamati sekitar. Pandangan matanya mengiris udara, tajam dan penuh perhitungan, seolah mampu menembus puluhan meter jauhnya.
"Tidak, tidak. Kita tidak tersesat" Ucap Si tuli, sang mata elang. Dengan raut antusias.
KIRI tiba-tiba mengarkar tanah tepat di selangkangan kakinya. Dia mendapati tanah itu lembap tidak berdebu, menandakan posisi mereka sudah dekat dengan pantai. Dengan tanah yang digenggam, Si bisu mengangguk pelan menandakan ia percaya dengan ucapan adiknya.
Part 2 akan segera hadir...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar